Senin, 28 November 2011

Wall-E

Pada awalnya bumi diisi oleh manusia, namun sayang keberadaan manusia terancam punah.Umat manusia di bumi punah karena terjadi keracunan saking banyaknya sampah. Harapan terakhir umat manusia waktu itu adalah robot-robot  WALL-E (Waste Allocation Load Lifter Earth Class) yang sayangnya juga gagal melakukan tugasnya untuk membersihkan bumi. Yang tersisa cuma satu robot WALL-E yang jadi tokoh utama di cerita ini karena entah kenapa dia punya kecerdasan lebih. Satu-satunya kelompok manusia yang selamat adalah yang sedang liburan di pesawat luar angkasa. Sebelum umat manusia punah, presiden amerika yang terakhir sudah sempat ngirim pesan ke pesawat luar angkasa ini supaya mereka jangan kembali ke bumi, sebelum bumi benar-benar aman lagi untuk ditinggali. Untuk itulah dari pesawat luar angkasa dikirimkan EVE (Earth Vegetation Evaluator) untuk mencari adanya vegetasi atau tumbuhan sebagai tanda bahwa bumi sudah aman untuk ditinggali. Dan baru 700 tahun kemudian, setelah WALL-E berhasil membersihkan bumi, barulah EVE ini bisa menemukan vegetasi di bumi. Tanpa disangka ketika EVE dibawa oleh Wall-e kerumahnya karena ketika itu ada badai Wall-e menunjukkan tanaman dicari oleh EVE dan seketika EVE langsung mengambil tanaman itu dan mati secara tiba-tiba (mati suri), Well-e yang polos langsung mengira kalau EVE kukurangan baterai seperti dirinya .
Dengan setianya Well-e menunggu EVE saat dijemur untuk memasukkan energi, namun sudah lama tetap saja EVE tidak kembali layaknya semula. Dan Wall-e pun akhirnya bekerja seperti semula. Singkat cerita ketika Wall-e bekerja Eve dijemput oleh pesawat yang akan membawa Eve ketempat dimana mausia berada sekarang. Karena ketertarikan well-e dengan Eve dengan segera Well-e menyusul Eve. Mungkin ketertarikan itu terjadi karena Wall-e keseringan nonton film drama cinta dan membuat Wall-e penasaran denagan rasanya cinta, well-e sering banget ngumpulin barang-barang manusia yang persis seperti yang ada dalam drama itu. Wall-e sangat menyukai melihat drama itu pas adegan berpegangan tangan, dia langsung coba membayangkan dan mempraktekannya seakan-akan dia berpegangan dengan seorang robot wanita yang cantik. Kemabali ke cerita, dan disinilah cerita petualangan well-e dimulai. Setelah disana mulailah semua robot yang ada didalam pesawat yang menjemput Eve tadi dikeluarkan. Diantara robot-robot tersebut terdapat Eve. Well-e pun menyusulnya dan tidak sengaya ikut terangkat ketika mengangkat robot yang lainnya. Setelah itu semua robot dibersihkan . yach sperti yang kita tahu ja deh welle itu kan dah berkarat jadi robot yang bertugas ngebersihin dia ntu sampe gerem banyangin ja 100%. Kemudian semua robot diperiksa dan ternyata ketika diperiksa yang dicari telah ditemukan, langsung Eve dibawa menuju ruangan Kaptein. Singkat cerita ketika tanaman itu berada ditangan kaptein robot yang menjadi pengendali kapal induk itu mencoba menghalangi. Singkat cerita lagi tanaman tersebut berhasil diselamatkan Well-e dan akhirnya tanaman itu berhasil dimasukkan ke sebuah alat yang dapat membawa manusia yang ada didalamnya Back To Home secara otomatis namaun hal itu dengan pengorbanan tubuh Well-e yang rusak karena menahan alat itu tidak tertutup kembali. Da yang lupa selam didlam pesawat induk itu welle mendapatkan temen baru bernama kemok(ngak tahu dech namanya kalo ngak salah sech) robot pembersih yang tadi gerem ma Well-e karena dia kotor banget.Dan akhirnya  manusia kembali ke Bumi dan Bumi kembali seperti semula. Dan manusia-manusia yang tadinya gemuk banget  sudah berangsur kembali kurusan.


Interdependence
Salah satu unsur utama dalam kesuksesan pembelajaran kooperatif yang mana berbasiskan kegiatan kelompok siswa, adalah Positive Interdependence (PI) atau jika diterjemahkan secara bebas yaitu interdependensi positif. Interdependensi positif (Positive Interdependence/PI) berarti, anggota kelompok tersebut merasa bahwa mereka adalah satu kesatuan, ibarat di sungai mereka berenang atau tenggelam bersama-sama. Dengan kata lain, hal-hal yang membantu salah satu anggota kelompok, membantu mereka semua, dan hal-hal yang menyakiti salah satu angota kelompok, juga menyakiti setiap siswa dalam kelompok tersebut. Salah satu contoh interdependensi positif adalah seperti yang tampak pada tim olahraga (Jacobs, 1988). Jika salah satu pemain cedera, hal ini akan merugikan seluruh pemain, namun ketika salah satu pemain sedang dalam performa yang hebat dan bermain sangat bagus serta mencetak banyak skor, hal juga akan menguntungkan seluruh anggota tim.   
Berikut adalah inti gagasan dalam tujuh cara membentuk kelompok dalam upaya meningkatkan interdependensi positif/PI (Johnson, Johnson & Holubec, 1993 dalam Jacobs dkk, 1994).
1. Interdependensi Peran (Role Interdependence)
Hyland (1991) memberikan contoh aktivitas yang merupakan penekanan dari peran PI. Kelompok siswa yang terdiri dari 3 siswa pada kenyataannya cukup rumit. Peran dari siswa pertama adalah menggambar, orang kedua bertugas menggambarkan atau mendeskripsikan gambar tersebut kepada anggota kelompok yang ketiga yang bertugas untuk menggambar ulang tanpa melihat versi aslinya, melainkan dari deskripsi dari rekannya. Pembagian peran ini diurut bergantian sehinga masing-masing anggota kelompok mempraktekkan semua peran yang tersedia.` Aktifitas ini akan merangsang diskusi yang passif diantara siswa no.2 dan no.3, sementara siswa no.1 (sang empunya gambar) mendengarkan dengan seksama untuk melihat bagaimana gambarnya akan sukses disalin oleh kedua temannya. Interdependensi peran adalah cara yang bagus untuk meningkatkan IA, sebab setiap siswa di dalam kelompok memiliki sesuatu untuk dikerjakan demi menyelesaikan tugas kelompok.
Contoh dari aktifitas membaca yang mengundang interdependensi peran adalah pembelajaran resiprokal (pembelajaran timbal-balik) (Cotterall, 1990). Di sini, alur yang dapat dibaca dibagi menjadi potongan-potongan, kelompok siswa memahami/membaca alur dari satu potongan ke potongan berikutnya, dengan demikian siswa akan mengklarifikasi, menemukan gagasan utama, menyimpulkan dan memprediksi.
2. Interdependensi pada Musuh dari Luar (Outside Enemy Interdependence)
Interdependensi pada musuh dari luar berartibahwa anggota kelompok tersebut bekerja sama untuk mengalahkan musuh bersama. Safnil (1991) menawarkan contoh dari kelas ESL di salah satu SMP di Indonesia. Setelah guru memberikan presentasi, kelompok siswa mempelajari materi untuk persipan menghadapi kuis individu. Masing-masing kelompok berkompetisi satu sama lain untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Aktifitas ini juga memfasilitasi IA, karena masing-masing siswa bekerja untuk kuis individu.
Dalam metode STAD (Student Team Achievment Division) (Slavin, 1990) masing-masing skor kuis yang diperoleh siswadibandingkan dengan nilai rata-rata mereka yang sebelumnya, dan mereka menyumbangkan poin untuk tim mereka berdasarkan, sebaik apa hasil perbandingan nilai kuis mereka dengan nilai rata-rata kuis mereka sebelumnya. Jadi para siswa berkompetisi melawan nulai kuis terakhir mereka sendiri, bukannya melawan siswa yang lainnya. Dengan demikian, siswa yang kemampuannya rendahpun dapat memberikan kontribusi untuk kelompoknya, walaupun kemampuannya tidak setinggi teman-teman sekelasnya yang lain. Dalam STAD, kelompok siswa tidak diperbolehkan untuk bersaing melawan kelompok lainnya, sebagai gantinya, setiap tim yang memiliki cukup poin akan memperoleh pengakuan, tidak peduli sebagus apa prestasi kelompok yang lainnya. Pun demikian, kelompok siswa tidak berlomba antara satu dengan yang lainnya untuk suatu kemampuan atau kompetensi yang sukar diukur, melainkan berkompetisi melawan standart tertentu yang telah ada. Ada banyak jalan untuk menjadikan sesuatu sebagai “musuh dari luar” daripada orang. Sebagai contoh, seluruh kelas dapat berusaha keras untuk mencetak skor yang lebih bagus dari rata-rata kelasnya sendiri pada tahun sebelumnya. Atau seluruh sekolah dapat berkompetisi melawan goal yang telah ditentukan. Sebagai contoh, pada sekolah dnegan 500 siswa, “goal” yang ingin dicapai oleh seluruh isi sekolah adalah membaca lebih dari 2000 buku sebagai bacaan tambahan dalam waktu dua bulan. Dengan masing-masing membaca buku yang sesuai dengan tingkat kemampuannya.
3.Interdependensi Sumberdaya (Resource Interdependence)
Satu dari ketergantungan positif yang paling sering digunakan adalah ketergantungan sumberdaya. Kuncinya disini bahwa masing-masing anggota kelompok memiliki sumber daya yang berbeda dimana harus dibagi demi kesuksesan kelompok dalam menyelesaikan tugas. Sumber daya ini dibagi menjadi dua, yaitu sumber daya informasi dan sumber daya peralatan. Safnil (1991) memberikan contoh dari interdependensi sumber daya yang berdasarkan informasi. Siswa diwawancari teman sekelompoknya tentang aktifiasnya sehari-hari dalam mengisi waktu luang, kemudian meminta mereka membandingkannya dengan teman yang lain. Atau ditugaskan untuk mewawncarai anggota keluarganya juga tetangganya, kemudian membandingkan kebiasaan mereka, wawancara tersebut bisa dilakukan secara oral maupun tulis. Hall (1992) menjelaskan aktivitas terkait perbedaan informasi mirip seperti di atas. Kuncinya bahwa setiap siswa memiliki info unik, masing-masing siswa harus berbagi info tersebut untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
Cara lain untuk memelihara interdependensi sumber daya adalah melalui penerapan metode jigsaw (Aronson, 1978; Graney, 1989). Dalam jigsaw, masing-masing anggota kelompok diberi bagian yang berbeda dari suatu bacaan. Kemudian mereka meninggalkan kelompok asal lalu berkumpul bersama anggota kelompom lain yang mendaptkan bagian bacaan yang sama, kelompok baru ini disebut dengan keompok ahli. Tujuan dari kelompok ahli ini yaitu untuk mempelajari bagiannya dengan lebih baik dan lebih mendalam, kemudian bersiap untuk mengajarkannya kepada anggota kelompok asal. Selanjutkan para siswa ini kembali ke kelompok asal dan mengajarkan apa yang mereka dapat di kelompok ahli kepada teman-temannya di kelompok asal. Pada akhirnya, seluruh anggota kelompom asal akan dapat menguasai seluruh isi bacaan. Satu poin penting yang perlu di camkan dalam jigsaw adalah, bahwa, pembagian bacaan ini harus utuh, maksudnya, bagian tersebut harus dapat dipahami tanpa harus isi bagian yang lainnya. Selain itu jigsaw dapat meningatkan IA, sebab masing-masing siswa akan mengajarkan bagiannya kepada teman kelompoknya (Kagan, 1992; untuk versi jigsaw yang lebih fleksibel).
Contoh interdependensi sumber daya yang berdasarkan pada peralatan adalah pada proses sswa menyusun jarring-jaring kata, atau disebutjuga jarring-jaring semantic (Semantic webs, Kagan, 1992), masing-masing siswa memiliki pensil warna atau spidol yang berbeda-beda. Dengan memberikan siswa interependensi sumberdaya ini, peluang untuk memberdayakan IA akan terwujud.
4. Interdependensi Fantasi (Fantasy Interdependence)
Kadang, pelajaran menjadi lebih menyenangkan dan memikat hati, ketika siswa diberi tugas untuk memikirkan sesuatu yang tidak nyata. Interdependensi fantasi mendukung konsep tersebut. Anggota kelompok berpura-pura berada dalam era yang berbeda (misalnya tahun 2020) atau di tempat yang lain (misalnya di brazil) atau menjadi orang lain (misalnya pejuang kemerdekaan) atau bahkan menjadi makhluk lain, bukan lagi manusia (misalnya ikan yang dapat berbicara). Mereka kemudian melakukan sesuatu untuk mendapatkan tujuan mereka dalam situasi imajiner yang mereka khayalkan. Bermain peran/role plays (Ladousse, 1987) mungkin mempromosikan interdependensi fantasi ini. Sebagai contoh, siswa dapat berpura-pura sebagai pengunjung yang berasal dari planet lain, setelah mereka kembali ke planetny masing-masing, mereka bertugas untuk menjelaskan apa pengalaman mereka di bumi. Contoh yang lain, misalnya siswa berpura-pura bahwa dirinya disponsori sekolah untuk melakukan perjalanan keslah satu tempat di seluruh dunia yang dia inginkan, tugasnya adalah menyiapkan penelitian di tempat yang akan dia tuju. Bagaimana mungkin IA dapat diberdayakan pada dua aktifitas di atas?



5. Interdependensi Identitas (Identity Interdependence)
Interdependensi identitas memerlukan pemberdayaan anggota kelompok untuk menekankan suatu identitas umum. Seperti layaknya tim dan klub olahraga, mereka memiliki nama, cara jabat tangan, lagu, yel-yel banner dan lain sebagainya, bagitu juga untuk kelompok belajar. Identitas ini bisa bersifat umum atau spesifik pada bab tertentu. Sebagai contoh, kelompok siswa dari mata pelajaran bahasa ingris untuk sains dan teknologi, untuk nama kelompok, mereka dapat mengambil nama dari seorang penemu terkenal (misalnya “Sang Edison”, dengan meletakkan gambar Edison di banner mereka) atau nama temuan (misalnya “si mesin uap”) atau mengambil nama dari sebuah proses penting (misalnya “fotosintesis”, mungkin dengan logo bergambar pohon dan matahari).

6. Interdependensi Penghargaan (Reward Interdependence)
Salah satu cara yang paling banyak digunakan untuk meningkatkan PI yaitu dengan pemberian penghargaan atau hadiah. Bisa berupa hadiah yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri (instrinsic reward), seperti kenyamanan dalam proses belajar atau kesenangan ketika bekerjasama dengan siswa lainnya dan menjadi lebih mengerti. Atau bisa juga hadiah secara ekstrinsik, misalnya saja pemberian nilai, pengakuan dari guru dan teman-temannya di kelas, sertifikat atau penghargaan lainnya. Di sini, pastinya IA juga berlaku. Misalnya saja siswa bekerjasama untuk membuat sebuah produk, reward yang sama diberikan kepada seluruh anggota kelompok. Mungkin hal ini terlihat tidak adil, sehingga perlu adanya pengawasan sampai diketahui siswa mana yang memerikan kontribusi paling banyak yang layak mendapatkan penghargaan lebih daripada teman-temanya yang lain.
7. Interdependensi Lingkungan (Environmental Interdependence)
Kadang-kadang, Anda mengharapkan kelompok siswa dapat bekerja bersama dalam menyelsaikan tugas yang diberikan, akan tetapi mereka duduk berjauhan atara satu dengan yang lainnya, yang mungkin karena masing-masing siswa dalam kelompok tersebut takut atau ragu untuk bergaul satu sama lainnya. Disinilah peran dari tipe PI yang terakhir yaitu interdependensi lingkungan. Interdependensi lingkungan tidak mengharuskan siswa untuk bekerja bersama dalam proyek recycle. Sebagai gantinya interdependensi lingkungan berarti antara satu siswa dengan lainnya posisinya sangat dekat sampai mereka bisa berkolaborasi. Ini berate mengabaikan konsep juga penting jika dapat mendekatkan siswa “antar mata ke mata” dan “antar lutut ke lutut” kondisi ini membuat siswa-siswa tadi lebih mudah dalam membangun komikasi satu sama lain dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Sebagaimana ungkapan “ anggota kelompo harus saling berdekatan hingga mereka dapat mencium bau satu sama lainnya”.

Saya, anda, dan dia mungkin sudah mengenal dan saling mengetahui bahwa kita semua memiliki rasa untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Akal untuk mengetahui betapa hidup di dunia ini, kita membutuhkan pertolongan dari sesama.  Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kita lalui. Pernahkan terlintas di benak, untuk apa kita hidup didunia ini? Menurut saya,jawabannya adalah kita hidup di dunia ini ialah untuk saling melengkapi dengan sesama orang-orang yang ada disekeliling kita. Kita ada karena mereka, bukan mereka ada karena kita.


Homo Homini Socio dan Homo Homini Lupus
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan. Hal itu dikarenakan manusia dikaruniai akal budi dimana ini tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Manusia diciptakan sebagai penguasa dan penjaga akan apa yang ada di bumi ini, maka dari itu manusialah yang bertanggungjawab akan apa yang terjadi di bumi ini. Kita pasti pernah mendengar kalimat “manusia adalah makhluk social” kalimat ini ingin menjelaskan bahwa manusia sebenarnya tidak bias hidup sendiri, manusia saling membutuhkan satu sama lain untuk dapat hidup dan memenuhi kebutuhannya. Kata “social” itu sendiri diambil dari pengertian masyarakat, dengan begitu kita bias menarik kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang hidup bermasyarakat. Ada 3 macam kebutuhan yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup yakni:
1. Kebutuhan Primer : Adalah kebutuhan yang wajib dimiliki, karena bersifat vital dan tidak bias ditunda, contoh: makanan, pakaian dsb
2. Kebutuhan sekunder: Adalah kebutuhan yang tak harus dipenuhi, namun cukup vital dalam kehidupan. Kebutuhan sekunder biasa dibilang semi primer karena sifatnya yang juga tergolong penting dalam hidup, contoh: Kebutuhan akan tempat tinggal, dsb
3. Kebuthan tersier : Adalah kebutuhan yang tak wajib untuk dipenuhi karena tidak mempengaruhi baik itu dimiliki maupun tidak dalam hidup, contoh: kebuthan akan kendaraan bermotor, alat komunikasi, dsb.
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan manusia semakin bertambah. Contohnya kebutuhan akan alat komunikasi (handphone) kian meningkat di masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan pergeseran kebutuhan, alat komunikasi (handphone) yang tadinya hanya kebutuhan tersier sekarang menjadi kebuthan premier karena gaya hidup yang menuntut mobilitas manusia lebih cepat dan fleksibel. Oleh karena itu terciptalah ide untuk mengembangkan IPTEK oleh manusia. Tidak hanya dalam alat komunikasi, perkembangan IPTEK telah merambat ke segala hal seperti transportasi, keamanan dsb. Perkembangan yang cepat ini mengarah ke dua hal yang berseberangan yakni Perkembangan positif & Perkembangan negatif :
1.       Perkembangan positif: Maksudnya adalah perkembangan IPTEK semakin menunjang dan kebutuhan manusia kea rah positif. Manusia yan dulu hanya mendapatkan informasi dari pihak ke pihak secara lisan sekarang sudah bias menjelajahi informasi di dunia hanya dengan mengakses internet. Ini merupakan salah satu contoh kemajuan yang dicapai manusia dalam mengembangkan IPTEK-nya. Masih banyak Hal lainnya seperti penggunaan listrik untuk penerangan, dsb.
2.       Perkembangan negatif : Maksudnya adalah perkembangan IPTEK yang malah justru membuat malapetaka bagi manusia itu sendiri, terutam kepada masyarakat sekitarnya. Pemanfaatan IPTEK yang keliru ini cenderung menghasilkan tindakan criminal dan menurunnya kualitas individu manusia iu sendiri. Contohnya adalah penggunaan computer (internet) untuk membobol bank. Hal ini menjadi batu sandungan bagi manusia, karena ITPTEK yang kian dibanggakan dan dikembangkan justru bias menjadi boomerang bagi kehidupan.

homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lain) dipopulerkan oleh Thomas Hobbes, seorang filsuf dari Inggris, untuk menggambarkan situasi masyarakat yang diwarnai oleh persaingan dan peperangan. Siapa pun bisa menjadi musuh. Manusia yang satu bisa “memakan” dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang ingin dicapai. “Bellum omnium contra omnes” (perang semua melawan semua).
Kebenaran pendapat Hobbes itu masih dapat kita jumpai dalam situasi kita saat ini. Kita merasakan bahwa situasi persaingan itu semakin menguat. Apalagi di era globalisasi yang ditopang oleh sistem pasar bebas. “Kalau mau tetap eksis, harus berani bersaing dengan yang lain” itulah jargon yang seringkali dimunculkan. Di antara negara-negara, persaingan itu sangat kentara. Perusahaan-perusahaan trans-nasional bertebaran di mana-mana. Yang punya modal kuat bisa bertahan dan bahkan makin mendulang keuntungan. Sementara yang modalnya kecil kandas di tengah jalan. Situasi persaingan itu tidak hanya terjadi antar institusi. Persaingan antar individu pun terjadi. Yang satu punya handphone terbaru, yang lain tak mau kalah. Kemajuan teknologi memicu orang untuk berlomba-lomba mengikutinya, karena takut dicela “ketinggalan jaman” atau disebut “katrok”.
Kita merasakan bahwa situasi persaingan itu semakin menguat baik antar negara, suku, daerah, sekolah, bahkan hingga kelompok organisasi yang amat kecil. Apalagi di era modern dan era globalisasi yang ditopang oleh sistem pasar bebas. Ajaran pokok Driyarkara yaitu "manusia adalah kawan bagi sesama". Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritik, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas preman; sosialitas yang saling mengerkah, memangsa, dan saling membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia).
Inilah yang mendasari watak orang-orang jaman sekarang khususnya bangsa ini yang saling membunuh dan menganggap saudara setanah air musuh. Buktinya belum lama terjadi keributan di Jl. Ampera, Jakarta Selatan tepat di depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang hingga terdapat 3 korba jiwa. Keributan terserbut di picu dengan salah satu kejadian yang terbunuhnya rekan dari suatu kubu tertentu. Banyak yang mengatakan keributan tersebut antara Ambon dengan Flores. Disini kita dapat milhat 2 sisi berbeda yaitu Homo Homini Socio dan Homo Homini Lupus.

Karena terbunuh salah satu saudara dari suku Ambon maka mereka marah dan menentukan untuk membalas dendam atas kematian saudaranya. Di sisi ini kita dapat melihat Homo Homini Socio yang erat antara anggota-anggota suku Ambon, namun di lain sisi kita melihat juga Homo Homini Lupus yang sangat kental yaitu membunuh suku Flores.

Inti dari pikiran ini adalah bahwa manusia akan butuh orang lain dalam hidupnya untuk berinteraksi. Dalam sebuah teori yang sangat sederhana, teori ini dapat dengan sederhana dibuktikan dengan kebutuhan manusia akan akurasi dan dipandang baik oleh orang lain. Karena kodrat manusia adalah makhluk sosial yang tidak pernah dapat hidup sendiri. Bagaimanapun manusia ingin mencoba hidup sendiri, dan tidak memikirkan orang lain, manusia akan tetap berada dalam kondisi dimana dia akan terikat dengan orang lain. Homo homini socius merupakan sebuah konsep yang telah terbukti dengan adaptasi teori psikologis yang menjelaskan bahwa bagaimanapun, manusia akan terikat dengan lingkungannya dan khususnya lingkungan sosialnya.

HOMO HOMINI SOCIO Definisi Manusia didalam Homo Homini Socio, Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalamagama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Meskipun banyak spesies berprinsip sosial, membentuk kelompok berdasarkan ikatan atau pertalian genetik, perlindungan-diri, atau membagi pengumpulan makanan dan penyalurannya, manusia dibedakan dengan rupa-rupa dan kemajemukan dari adat kebiasaan yang mereka bentuk entah untuk kelangsungan hidup individu atau kelompok dan untuk pengabadian dan perkembangan teknologi, pengetahuan, serta kepercayaan. Identitas kelompok, penerimaan dan dukungan dapat mendesak pengaruh kuat pada tingkah laku individu, tetapi manusia juga unik dalamkemampuannya untuk membentuk dan beradaptasi ke kelompok baru. Manusia, sudah jelas bahwa manusia yang dimaksud di dunia tidak hidup sendiri, dan tidak akan bisa hidup sendiri. Karena itu manusia juga disebut makhluk sosial, makhluk yang hidup berkelompok. Manusia membutuhkan informasi-informasi untuk mengetahui keadaan kehidupan yang ada, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan survive atau juga pertahanan hidup di dunia ini.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai aturan-aturan atau peradaban yang berbeda beda di dunia ini, setiap titik tempat pasti mempunyai peraturan yang berbeda beda. Peraturan tersebut dibuat untuk mentertibkan dan menyesuaikan dengan keadaan titik tempat tersebut, dan juga dibuat untuk mentertibkan komunikasi antar manusia. Bukan baru-baru ini manusia sebagai makhluk sosial, tetapi sudah berabad-abad lamanya, sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, manusia sangat membutuhkasn satu sama lain, karena beberapa alasan, tetapi ada beberapa alasan yang sangat dominan yaitu :
1. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pangan, atau jasmaninya.
2. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pertahanan diri, atu kita bisa sebut survival, untuk bertahan hidup.
3. Manusia juga sangat membutuhkan interaksi dan sosialisasi atas dasar melangsungkan jenis atau keturunan.
Dari point-point di atas kita bisa melihat dan membayangkan bagaimana manusia sangat membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya membutuhkan, tapi masyarakat atau kumpulan manusia yang berinteraksi adalah suatu komponen yang tidak terpisahkan dan sangat ketergantungan. Sehingga komunikasi antar masyarkat dientukan oleh peranan manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial.

Globalisasi, adalah perubahan secara besar-besaran atau secara umum meluas. Dalam arus globalisasi yang berkembang sangat cepat ini manusia menjadi makhluk yang sangat mudah meniru dalam arti meniru sesuatu yang ada di masyarakat yang terdiri dari :
1. Manusia mudah meniru atau mengikuti perkembangan kebudayaan-kebudayaan, dimana manusia sangat mudah menerima bentuk-bentuk perkembangan dan pembaruan dari kebudayaan luar, sehingga dalam diri manusia terbentuklah pengetahuan, pengetahuan tentang pembaruan kebudayaan dari luar tersebut.
2. Penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia, sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.

Secara umum, keinginan manusia untuk meniru bisa terlihat jelas dalam suatu ikatan kelompok, tetapi hal ini juga kita dapat lihat di dalam kehidupan masyarakat secara luas.Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.


Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :
1. Tekanan Emosiaonal. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.
2. Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
3. Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis.

Homo Homini Socio
Definisi Homo Homini Socio 1
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.
Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.
Sosialisasi
Peter Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses di mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978:116). Salah satu teori peranan dikaitkan sosialisasi ialah teori George Herbert Mead. Dalkam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind, Self, and Society (1972). Mead menguraikan tahap-tahap pengembangan secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain, yaitu melalui beberapa tahap-tahap play stage, game sytage, dan tahap generalized other. Menurut Mead pada tahap pertama, play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya. tahap game stage seorang anak tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Pada tahap ketiga sosialisasi, seseorang dianggap telah mampu mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat yaitu mampu mengambil peran generalized others. Ia telah mampu berinteraksi denagn orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peranan orang-orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Menurut Cooley konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini oleh Cooley diberi nama looking-glass self. Cooley berpendapat looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap. Tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenaoi pandangan orang lain terhadapnya. Pada tahap berikut seseorang mempunyai persepsi mengenai penilain oreang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu. Pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi itu menurut Fuller and Jacobs (1973:168-208) mengidentifikasikan agen sosialisasi utama: keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan
Definisi Homo Homini Socio 2
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.
Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, "manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang. Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.

HOMO HOMINI LUPUS

“Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya” atau juga disebut “Homo homini Lupus ” istilah ini pertama kali di kemukakan oleh plautus pada tahun 945,yang artinya sudah lebih dari 1500 tahun dan kita masih belum tersadar juga. di jaman sekarang ini sangat sulit Menjadikan Manusia seperti seorang manusia pada umumnya,sepertinya istilah ini masih tetap berlaku sampai sekarang. "manusia adalah kawan bagi sesama". Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritik, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas
Homo Homini Lupus telah berkembang melewati batas individu, antar kelompok, bangsa, dan mungkin perlahan telah membentuk suatu kebudayaan sendiri. Homo Homini Lupus telah masuk dalamrelung aktivitas manusia, baik itu ekonomi, social, hukum, politik dengan segala bungkus atribut kekinian. Sebagian manusia telah kehilangan cara pandang hidupnya (way of life) sehingga mereka khilaf akan kedudukannya sebagai mahluk yang berke-Tuhanan YangMaha Esa. Nilai-nilai kemanusian nan penuh keadilan dan beradab yang Tuhan anugerahkan mengalami pasang surut, bahkan terombang-ambing dalambatas kepudaran. Nah disinilah homo homini lupus akan mengalami reproduksi yang sangat luar biasa. Tidak bisa dipungkiri Hidup di dalam suatu negara sangat di butuhkan sosialisasi karena kita tidak dapat Hidup dengan sendirinya tanpa ada manusia lain.Apalagi seperti keadaan sekarang ini kita Hidup di jaman yang serba susah .Demi mempertahankan hidup itu sendiri kita rela melakukan apa saja Mulai dari yang halal sampai yang Haram, tentunya semua itu kita lakukan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.Untuk mewujudkan itu semua memang tidak mudah dimana kita harus menghadapi berbagai konflik yang akan memicu lahirnya sikap saling mangsa Dan disinilah Peran Hati nurani & ego sangat dibutuhkan.

gambaran manusia di jaman sekarang ini sangatlah mengerikan dari segi sikap dan perbuatan terkadang lebih keji dari pada hewan yang paling buas sekalipun,saling sikut,saling berebut saling tikam bahkan saling memangsa layaknya serigala yang buas siap menerkam mangsanya demi sebuah kepuasan (ambisi). sebagai contoh yang terjadi di dalam kehidupan kita seperti tindakan kekerasan,mulai dari perkelahian ,pembunuhan,pemerkosaan,serta aksi teror pemboman yang sedang trend di negara kita dan perang dunia yang memungkinkan akan terjadi lagi. Apakah itu disebut manusia ? Tidak. Kenapa tidak? Karena itu semua manusia yang melakukanya dan dilakukan terhadap manusia juga ? entahlah..’
Pengakuan sebagai umat beragamapun yang telah patuh terhadap ajaranya kerap kali sebagai alasan tindakan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Banyak pelaku kekerasan seperti tersebut menyatakan ini masalah iman, masalah Tuhan atau masalah kebenaran (kebenaran yang ditafsirkan manusia itu sendiri). untuk menghadapi ini semua haruskah kita pun menjadi serigala ? atau hanya diam dan menjadi domba yang berada di tengah-tengah gerombolan para serigala lapar ? Tentu saja tidak ! Sebagai manusia kita harus mampu menghadapi segala hal dengan berani, yang tentunya dengan segala tindakan positifnya. Situasi demikian juga terjadi pada jaman Yesus. Para murid yang merasa diri sebagai kelompok dekat Yesus (orang “dalam”) tidak senang ketika ada orang lain (orang “luar”) yang mengusir setan dengan mengatasnamakan Yesus. Para murid merasa tersaingi. Menanggapi itu, Yesus justru mengajak mereka untuk membuka diri terhadap orang-orang “luar” dan mencoba melihat sesuatu yang baik dari mereka. Dalam hidup menggereja pun, dengan embel-embel “karya pelayanan” situasi persaingan bisa saja terjadi. Mungkin ada yang tidak senang kalau orang lain bisa melakukan ini itu, kalau program-programnya bisa berjalan dengan sukses. Daripada melihat mereka sebagai saingan, marilah kita belajar untuk melihat kebaikan yang ada dalam diri mereka. Kita kembangkan situasi “homo homini socius” (orang lain adalah teman/mitra). Keberhasilan orang lain mestinya justru mendorong kita untuk berusaha menjadi lebih baik lagi.
Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari semua artikel diatas adalah kita sebagai manusia diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Manusia tidak akan pernah dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain karna manusia adalah makhluk sosial. Hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupan sehari- harinya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya yakni dalam mengembangkan peradabannya. Meskipun sikap manusia sebagai sosok “ homo homini lupus” tidak pernah luput dari kehidupan manusia itu sendiri. Akan tetapi bila kita selalu meyakinkan diri kita bahwa kita dapat melakukan segala hal dengan baik dan dengan tindakan yang benar,serta berserah akan segala sesuatu yang akan terjadi pada Tuhan maka kita dapat menghilangkan sosok manusia tersebut, walaupun tidak sepenuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar